Capek Hati

12 March 2018

“Aduh, Pak, sudah capek hati saya mengurusnya.”

Beberapa kali saya mendengar para ibu mengeluh seperti itu. Ternyata dalam melakukan sesuatu, kita tidak hanya mengeluarkan energi jasmani yang mendatangkan kelelahan secara fisik, tetapi juga menguras energi jiwa yang membuat kita jadi “capek hati”. 


Bisa jadi perasaan semacam itu yang dialami Yunus ketika berada di perut ikan. Ia menggambarkan dirinya di lemparkan ke dalam pusat lautan dan terangkum arus air, seperti tenggelam ke dasar bumi yang pintunya tertutup rapat. Kepalanya seperti dililit lumut laut, perumpamaan tentang pikiran yang kalut. Seperti orang yang hatinya sudah capek, Yunus tercekam oleh keputusasaan. Ia sampai merasa dirinya telah terusir dari hadapan mata Tuhan.


Mungkin kita pernah mengalami hal yang sama. Kita mengalami kesesakan dan Tuhan seakan tidak peduli. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah melupakan dan meninggalkan kita, namun kita kerap lalai dan tidak peka akan penyertaan-Nya tersebut.

Dari kisah Yunus, kita dapat memetik pelajaran. Ia tidak berhenti berharap untuk bisa kembali menyaksikan bait Tuhan, lambang hadirat-Nya. Ia berseru kepada Tuhan, bukan berpaling kepada berhala kesia-siaan karena ia yakin akan kasih setia Tuhan. Tuhan mengabulkan doa Yunus dan melepaskannya dari kesesakan. Saat hati terasa capek, kepada siapa lagi kita akan berpaling kalau bukan kepada Tuhan, sumber kelegaan dan pemulihan? —JAP/RH